Kamis, 05 April 2012

Bintang Yang Tak Bisa Menggapai Matahari



Aku memiliki teman akrab ketika duduk di bangku SMP. Seorang teman cowok. Namanya, Denial. Aku rasa ia memiliki cerita yang sangat menarik untuk aku ceritakan. Karena dia sering bercerita denganku dan aku juga sering memberikan komentar, kritik ataupun tanggapan setiap ia bercerita.

Aku nggak tau apa yang ada di pikiran temanku yang satu ini, tapi yang aku tau, Denial adalah orang yang jutek dan cuek terhadap orang yang ada disekitarnya. Tapi entah kenapa setelah kehadiran seseorang yang sering dia ceritakan, dia menjadi orang yang penuh dengan senyuman dan penuh kebahagiaan. Aku sempat bingung kenapa Denial bisa sampai begitu. Tapi memang karena dengan kehadiran seseorang itu, dia menjadi mudah tersenyum dan mulai merasakan benih cinta, padahal dulu Denial pernah bilang kalau dia sudah jera menjalani cinta dengan orang lain karena sering di sakiti. Denial Adha, yaaa itu nama kepanjangannya. Karena kejutekannya inilah makanya dia hanya memiliki beberapa teman saja yang sudah lama dia kenal, termasuk aku dan Ronal; teman sekelasku, pendengar setianya, dan inilah ceritanya…
          Denial adalah orang yang penuh kesendirian tapi itu berbeda ketika ada seseorang yang bernama Seli datang. Dia datang dengan memberi senyuman bahagianya sehingga dapat membuat Denial, temanku yang jutek dan cuek kembali tersenyum setelah sekian lama aku nggak pernah lihat dia tersenyum bahagia. Apalagi setiap hari dia selalu bertemu dengan Seli, karena mereka dan juga aku satu sekolahan yang sama cuma peringkat kelas aja yang membedakan. Kalau Seli kelas unggul, sedangkan Denial hanya lokal biasa, sama sepertiku. Aku kenal Seli karena acara ulangtahun Denial beberapa minggu yang lalu. Seli cantik, baik, dan juga ramah. Serasi dengan Denial yang ganteng, baik, tapi kurangnya cuman satu, tidak bersahabat. Huh.
 Mungkin karena sering ketemu itu maka muncullah benih–benih cinta antara mereka, dan tanpa disadari Denial semakin ingin bersama Seli sampai ia mati. Haha begitulah kalimat yang pernah Denial katakan padaku yang ku pikir itu adalah kalimat yang sangat konyol yang pernah aku dengar.
          Disaat Denial ulangtahun, Seli memberikan kado spesial yang dibuatnya sendiri sampai nggak tidur semalaman, mungkin dari situ Denial tambah yakin kalau Seli juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Tapi sampai sekarang, mereka hanya menjalani hubungan yang padahal tidak ada status apa-apa juga. Aku nggak pernah ngerti sama jalan pikiran Denial, Denial suka Seli tapi kenapa Denial nggak pernah nembak atau ngungkapin sesuatu sama Seli? Denial masih normal kan? Hiiiiiii…

“Gue nyaman banget dekat dia Ra, pas gue sakit dia pernah ngirim kata–kata ini buat merhatiin gue”, sambil ngasi ponselnya ke tanganku.

          Ternyata Daniel masih normal. Haha thanks God. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung buka message di ponselnya, aku lihat isinya dari atas sampai bawah, cuma Seli Seli dan Seli. Salah satu isi sms yang bener-bener ngebuat Denial nyaman banget itu ini nih:

“ Jangan sakit terus yah kalau sakit kan kita nggak bisa ketemu ntar dan nggak bisa ketawa lagi “

          Waah Seli perhatian banget sama Denial. Atau dia cuma gombal? Aku tersenyum mencibir dan membaca pesan terkirim, Denial membalasnya hanya “iya cerewet”, Denial membalasnya hanya begitu? Dasar Denial, tetap aja masih ada yang belum berubah -______-

“Gue makin dekat dan dekatnya udah setinggi puncak Mount Everest, Ra. Gue masih inget gimana waktu itu gue sama-sama curhat-curhatan tentang masalah masa lalu gue. Gue nyaman banget Raa, nyamaaan!! Apa yang harus gue lakuin?”
“Lo minta saran gue kan? Jadi, lo harus denger semua yang gue bilang tanpa ada yang hilang satu kata pun. Kalau bisa lo catat deh haha deal kan?”, kataku dengan nada merayu.

“Raraaaaaa!!!! Gue seriuuuuuussss!! Plis sekali ini lo jangan bikin masalah sama gue apa salahnya sih”, katanya dengan nada jengkel.

“Iya iyaa, nggak usah masang tampang iblis gitu kenapa?! Serem gue liatnya. Sangar amet muke lo gan. Haha peace brother”, aku masih saja menggodanya.

“Iyaaaaaaaaaaaaa ape lu kate deh neng, gue mah pasrah aja kalau mau mintak pendapat lo gini, kalau enggak mah udah gue gampar lo”

“Mampuuussss sadaaaap ganas benerrrrrrr daaaah ._. Jadi gini, gue atas nama cewek mewakili yaa, biasanya sih kalau kami udah perhatian dan malahan sempat ngasi kado ke cowok, itu tanda-tanda kami menyukai seorang cowok. Dan apa yang seharusnya dilakukan cowok? Heeeeeey shoot her!! Tembak dia boy. Nyatain perasaan lo ke dia”

“Cuma itu?”, Denial mencibirku, dan aku langsung membalas perkataannya, “So? Gue harus ngasi pendapat apalagi coba”

          Mungkin pendapatku bener-bener diterima ya? Haha terbukti kok. Tiba lah waktu disaat Denial mulai memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya itu. Hari ini. Di sekolah, saat pulang, Denial pun mulai mengajak Seli ngobrol bareng. Mereka pun tampak mulai mengobrol seperti biasa dan saling tertawa bercanda seperti biasa. Aku yang mengintip secara diam-diam tanpa diketahui oleh Denial dan Seli, hanya bisa memasang telinga biar nggak konslet mendadak. Eh?

“Sel, aku boleh ngomong nggak ma kamu?”

“Boleh lah, kan dari tadi udah ngomong, heheheh”, sambil tertawa kepada Denial.
“Tapi kamu jangan kaget yaa”

“Iyaaaa, kamu mau ngomongin apa sih?”, Seli heran.

“Aku mau ngomong kalau………… aku sayang kamu. Aku cinta kamu Sel”
“Ahhh… kamu itu becanda aja Den”, sambil tersenyum menggoda Denial yang udah gugup nggak menentu, jelas aja sih dari gerak-geriknya.
“Aku beneran Sel, mau nggak kamu jadi pacarku?”
“Tapi…… maaf aku nggak bisa terima kamu, maaf banget!! Sebenernya aku juga sayang dan cinta sama kamu mungkin karena kita sering bareng-bareng becanda, tapi…?”, Seli diam dan memberhentikan alasannya.
“Tapi kenapa kamu nggak terima aku Sel? Apa karena aku kurang ganteng yaa?”, Denial tersenyum pasrah.
“Bukan Den, kamu cowok ganteng dan baik yang pernah aku kenal. Tapi kamu nggak bakalan bisa ngerti”, kata Seli dengan tersenyum.

“Kenapa? Sebenarnya ada apa? Apa yang kamu sembunyiin dari aku Sel? Kenapa kamu nggak mau terima aku? Apa alasan yang kata kamu aku nggak bakal bisa ngerti itu Sel? Apa? Tolong jelasin Sel!!”, Denial sempat emosi, namun masih bisa ia menahannya.

“Karena aku… Kamu nggak bakal ngerti Den”, sambil menahan tangisan.

Denial meletakkan tangannya di pipi Seli, “Kenapa Sel? Kamu bilang sama aku nanti aku pasti bakal ngerti”

“Aku cuma mau yang terbaik buat kamu Den”

“Maksud kamu apa Sel? Aku nggak ngerti”, Denial heran dan sedih.

“Umur aku nggak berapa lama lagi Den, aku punya penyakit mematikan, dokter bilang aku cuma bisa menikmati waktu yang tersisa”

Aku sempat shock. Aku melihat Denial terdiam kaku, aku tau dia pasti sedang bingung harus melakukan apalagi. “Denial, lo tau apa yang harus lo lakuin Den. Gue tau lo bisa”, ujarku dengan pelan namun tetap saja suaraku itu mengalihkan pandangan Denial ke arahku. Aku hanya tersenyum pertanda memberinya semangat. Seli masih menangis dengan tangan Denial di pipinya.

“Kamu nggak boleh nangis Sel. Bagaimanapun kamu, aku tetap sayang kamu. Kekurangan kamu itulah yang akan aku tutupi”, Denial meyankinkan dengan berlinang air mata.

“Iya, aku tau Den, tapi aku cuma gadis penyakitan. Kamu nggak pantas sama aku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku mau kamu bahagia Denial. Cuma itu. Tolong ngertiin keadaan aku”, Seli berkata dengan memohon.

“Aku nggak bisa Sel, cuma kamu orang yang aku sayang setelah ibu aku. Dulu aku orang yang jutek dan cuek, tapi semenjak ada kamu, hidupku lebih berwarna, hidupku berubah Sel, aku jadi orang yang penuh dengan senyuman dan kebahagiaan. Hanya ketulusan cinta yang ku punya Sel”

Seli menunduk dan melepaskan tangan Denial dari pipinya. Aku merasa kasihan dengan Denial, tapi aku juga iba dengan Seli. Apa yang harus aku lakukan untuk mereka berdua? Aku nggak boleh cuma berdiam diri disini. Aku harus melakukan sesuatu demi Denial, temanku. Saat itu juga, aku menelfon Ronal, teman akrabku dan Denial agar cepat ke sekolah dengan mobilnya. Aku berniat mengajak mereka jalan-jalan ke pantai.

“Kenapa?”, Denial kaget karena tangannya dilepaskan Seli. Tapi Seli hanya diam saja dan tetap menangis. Seolah-olah dia nggak bisa menerima nasibnya dan hanya tetap menangis, tapi Denial mencoba menenangkan lagi, “sudah Sel jangan nangis lagi, masa yang selalu ceria seperti kamu malah nangis sih, kan kamu cahayaku meskipun tak selamanya menjadi cahayaku”.
Seli tersenyum dan membalas perkataan Denial, “maaf banget Den aku nggak bisa jadi cahaya dalam hidup kamu selalu, tapi aku harap kamu nanti bahagia tanpaku yaa”
Denial menunduk dan mengeluarkan air mata. “Kamu kenapa Den?”, Seli kelihatan sedih lagi.

“Kamu akan terus jadi cahayaku Sel. Selamanya. Sampai kapanpun. Sampai kita bertemu di tempat terindah nantinya”

Tanpa sadar, mereka sama-sama menangis. Dan saat itu juga, Ronal datang dengan mengejutkanku.

“Doorrrr!!!!!!”

“Heh… lo jail yaa. Awas lo ntar”

“Ngapain sih nyuruh gue ke sekolah lagi?”, katanya sambil menggerutu karena tadi aku menelfonnya saat dia sedang main PS.

“Liat tuh”, aku menunjuk ke arah Seli dan Denial.

“Terus? Ngapain?”, emang dasarnya Ronal lemot, beberapa menit baru deh dia sadar, “Hah Denial nembak Seli? Trus kenapa mereka nangis?”

“Nggak usah banyak bacot. Ntar gue ceritain di mobil. Oke”

Aku dan Ronal menghampiri mereka. Suasana masih mengharukan. Sebelum aku dan Ronal sampai ditempat mereka, Denial masih sempat mengucapkan
beberapa kalimat.

“Aku sayang kamu. Jangan nangis lagi yaa. Aku selalu ada disamping kamu Sel”

“Makasih yaa Denial”, sambil menghapus air matanya.

“Hey, jalan yuk”, tanpa aba-aba dan kode atau pemberitahuan ke aku, Ronal dengan pedenya langsung ngajak jalan. Dasar bocahh!! Tapi nggak papa lah, he is my bestfriend hahaha.

          Didalam mobil, kami bercanda ria sambil bernyanyi-nyanyi seakan nggak ada masalah atau sesuatu yang pernah terjadi. Denial dan Seli duduk di belakang. Dan aku duduk di depan dengan Ronal, sambil sesekali menjailinya.

Plakkkk!! “Lo ngapain sih Ra? Seneng banget lo gangguin gue”

“HAHAHA gue gemes sama lo Ron. Lo anak siapa sih”

          Aku dan Ronal masih terus bercanda dan berakhir ketika sampai di Pantai. Tapi sebelum turun, Seli seperti merintih kesakitan.

“Kamu kenapa Sel? Hidung kamu berdarah!!”, Denial panik melihat darah yang keluar dari hidung Seli.

“Aku nggak gak papa kok Den. Tapi aku cuma……”, dalam sekejap menit, Seli pun pingsan. Aku langsung menyuruh Ronal mengendarai mobilnya cepat ke Rumah Sakit. Denial hanya bisa menangis dan memegang tangan Seli yang berada di pangkuannya. Aku dan Ronal panik.

          Ketika sampai di Rumah Sakit M. Djamil, kami langsung memanggil suster dan Seli pun dibawa ke UGD. Diluar, kami menunggu dengan harap-harap cemas. Berharap Seli tidak apa-apa dan cepat sadar.
           
          Dokter keluar dari ruangan UGD, dan memanggil salah satu keluarga dari Seli. Terpaksa kami berbohong dan mengaku bahwa aku adalah kakak Seli.

          Aku mengikuti dokter ke ruangannya. Dokter tampak serius. Dan ketika dokter menjelaskan apa yang terjadi. Aku SHOCK. Mulutku bungkam dan badanku terasa kaku sekejap ketika mendengar Seli mengidap penyakit kanker otak yang telah dideritanya dari kecil. Dan selama itu juga dia selalu meminum obat-obatan. Sampai akhirnya, sekarang Seli dalam masa kritis. Karena dokter menganalisa Seli sudah tidak minum obat lagi selama beberapa hari sebelumnya. Yaa mungkin karena dia jenuh dengan obat-obatan.

“Dibalik senyuman yang manis itu tersimpan tangisan kesedihan yang mendalam”

          Aku menelfon orangtua Seli. Dan ketika orangtuanya sampai di Rumah Sakit, aku menjelaskan apa yang terjadi dan juga orangtua Seli menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini pada Seli. Dan dokter langsung melakukan operasi.

          Aku keluar dengan wajah ditekuk. Aku nggak tau apa yang harus ku katakan pada Denial dan Ronal. Aku nggak bisa membayangkan betapa shocknya Ronal dan betapa sedihnya Denial mendengar itu. Tapi ini harus ku katakan, perlahan-lahan, dan akhirnya mereka menerima. Kami hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keselamatan Seli.

          Setelah operasi selesai. Seli masih harus melakukan perawatan intensif dengan keadaan koma. Dan kami hanya bisa melihatnya dari jauh. “Kemungkinan bertahan hidup ada, tapi hanya sedikit”, itu kata dokter yang merawat Seli.

          Di saat itu pun Denial menyadari bahwa dia adalah seorang bintang kecil yang tak bisa menggapai sang surya di pagi hari. Sang surya. Cahayanya. Yang selalu ada dalam hatinya. Selamanya. Sampai ia bertemu kembali di suatu tempat Tempat yang terindah :)



Tidak ada komentar: