Sabtu, 14 April 2012

COKLAT

Rasa kopi atau rasa cokelat? Hmmmm…
akhirnya aku memilih rasa cokelat untuk adonan kue yang akan kubuat. Bukankah cokelat sering dikatakan sebagai lambang cinta? Bahkan, ada yang bilang juga kalau cokelat bisa membuat seseorang jatuh cinta. Ya benar, kue ini untuk Ogi, cowokku. Aku pernah ikut kursus singkat bikin kue selama satu minggu. Jadi paling enggak, udah ada sedikit bakat bikin kue, meskipun masih belajar. Oh iya, sebenarnya rencana membuat kue sudah aku pikirkan dari kemarin. Dan saat aku bangun, aku sangat bersemangat. Sebenarnya hari Sabtu ini aku sekolah. Tapi, karena hari Jumat kemaren libur Maulid Nabi Muhammad SAW, dan hari Sabtu ini bisa dibilang Harpitnas, jadi bisa dibilang aku meliburkan diri. Libur! Libur!

Selang waktu beberapa menit, adonan kue coklat itu telah selesai. Aku tinggal menuangkannya ke loyang. Aku menggunakan beberapa loyang berbentuk hati dengan ukuran… tanggung, mungkin. Tidak kecil, juga tidak besar.

***

Siang harinya, aku mulai mengemas kue itu dalam sebuah dus berwarna merah. Aku meletakkan empat kue berbentuk hati. Di atas setiap kue, aku menuliskan satu karakter menggunakan coklat putih. O, G, I. OGI! Sebenarnya adonan tadi menghasilkan lima loyang kue hati. Tapi, karena tidak muat dimasukkan ke dalam dus, jadi aku hanya menata empat buah untuk Ogi. Sisa satu kue aku simpan di lemari es. Siapa tahu saat Mama pulang kerja, Mama mau mencicipi kue buatan anaknya ini.

***

Ogi tampak surprised dan senang saat aku bertemu dia dan memberikan kue itu. Sebelumnya, aku janjian di suatu tempat, lalu Ogi langsung meng’iya’kan. Dan akhirnya bertemulah kami disini. Di Café yang biasanya tempat band Ogi manggung. Café Denis.

“Waaah! Kue ini bikinan kamu? Hebat!”, sambil mencubit pipiku yang kata orang sih cubby, tapi gak tau juga sih hehe.

Aku hanya tersenyum, “Kamu suka, kan?”

“Iya aku suka. Ini yang aku mau, cewek yang bisa masak, terutama kue”, jawabnya sambil mengambil salah satu kue yang ada di dalam dus berwarna merah itu. “Hmmm enak! Makasih yaaa. Ini beneran kamu yang bikin?”

“Ya, gitulah…,” aku merendah.

“Ada apa kamu ngasih aku kue? Tumben” tanya Ogi.

Aku sudah mempredikisi pertanyaan itu dan menyiapkan jawabannya.

“Ya, anggap aja sebagai ganti besok aku nggak bisa nemenin kamu manggung. Besok aku pergi jalan sama temen-temenku. Jadi, mungkin, malemnya aku capek. Maaf ya, aku bukannya ngecewain kamu. Tapi dari awal aku kan udah bilang, minggu ini aku belum bisa mastiin bisa nemenin kamu atau enggak.”

“Ya, kalo capek, nggak usah dipaksain. Nanti malah sakit! Apalagi sekarang cuacanya sering nggak bagus! Yaudah, nggak papa. Tapi masalahnya, tiap aku manggung kamu selalu ikut, tapi kalau sekarang kamu nggak ikut, apa kata anak-anak?”

“Bilang aja aku sakit atau apalah pandai-pandai kamu aja ya. Minggu depan pasti aku temenin lagi kok.”

“Pasti ya?” Ogi memasang wajah sok sedihnya yang padahal nggak sedih sama sekali.

“Iya janji deh,” aku sambil tersenyum manis.

Saat jam dinding menunjukkan pukul 17.00, aku minta pulang, dan diantarkan. Karena biasanya juga begitu.

***

Sepulang dari jalan-jalan, aku sempat ngumpul dan menggosip banyak hal di rumah dengan teman-teman. Saat mereka pulang, meski kemarin aku udah ngasih kue ke Ogi dan bilang kalau aku mungkin nggak bisa datang Minggu malam ini, tapi tetap aku mau ketemu Ogi. Aku emang biasanya selalu nemenin Ogi tiap kali dia manggung. Ogi itu termasuk cowok yang posesif, tapi menurutku, itu wajar.

Aku memutuskan datang ke Café tempat biasanya Ogi manggung. Dan pastinya Ogi pasti surprised lagi! Apalagi kalo alasannya aku kangen dia.

Di jalan, saat aku hampir sampai di Café Denis, gerimis tiba-tiba berubah jadi hujan deras. Awalnya aku tetap mengendarai motorku, melawan hujan sampai di Café Denis. Tapi, aku kalah. Akhirnya aku milih menepi di sebuah kedai sederhana yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari Café Denis.

Aku sedang duduk di bangku dan menunggu pesanan teh hangatku ketika seorang cewek berjaket merah maroon juga ke kedai itu. Helmnya menutupi kepala cewek itu. Aku memerhatikannya karena merasa kenal. Cewek itu duduk di sebelahku. Tangannya ia gosok-gosokkan karena dingin.

“Ola?”

Cewek itu menoleh. “Eh Tia! Apa kabar?” Ia menjabat tanganku. “Udah lama ya kita nggak ketemu.”

Ola adalah teman SMP ku. Kami berdua memang sudah lama nggak pernah ketemu dan juga nggak saling komunikasi. Maklum, karena sama-sama sibuk sekolah dan kesibukan sendiri.

“Pisang gorengnya masih panas. Mangga…!” Ibu pemilik kedai itu menaruh pisang goreng yang baru matang ke dalam piring. Aku mengambil satu dan meniup-niupinya karena panas.

“Kamu nggak ngambil?” tanyaku pada Ola.

Ia tersenyum. “Barusan aku ketemu cowokku. Dia ngasih aku kue” ia mengeluarkan sebuah kotak putih kecil dari bungkusan plastiknya. “Buatan dia sendiri.”

Sebuah kue coklat berukuran tanggung dengan bentuk hati dan tulisan huruf “O” di atasnya, terlihat saat ia membuka kotak tersebut. “’O’ untuk Ola!” Aku tersentak. Terkejut. Perasaan marah, kecewa, dan tidak percaya bercampur. Itu kueku! Ucapku dalam hati. Aku yakin sekali, itu kue yang aku buat untuk Ogi kemarin.

“Cowok kamu? Siapa?” tanyaku.

“Ogi! Tau kan? Senior kita waktu di SMP” jawabnya gembira. “Jarang banget kan, cowok suka bikin kue, dan sebagus ini tampilannya.”

Aku tersenyum palsu, berpura-pura ikut bahagia. Tapi sebenarnya aku kecewa dan marah. Kenapa Ogi bisa berbuat begitu? Padahal aku benar-benar sayang dia.

“Kalian udah lama jadian?” tanyaku lagi.

“Hmm, hampir satu bulanan lah…”

Itu artinya, baru dua minggu aku dan Ogi jadian, Ogi udah selingkuh. Hebatnya lagi, aku nggak pernah tau. Bodoh!!!!!!!!!!

“Sebenernya, aku pengen makan kue ini. Tapi sayang. Terlalu cantik.” Ola menatap kue coklat itu.

“Jangan gampang percaya sama cowok jaman sekarang! Siapa tau kue itu buatan orang lain! Terus, ngaku-ngaku sendiri!” Aku mengingatkan Ola.

“Masak sih, Ogi kayak gitu? Dia kan cowok baik-baik?”

“Ehm, kemarin aku baru nonton film yang ceritanya kayak gitu. Cowok yang dikasih kue sama ceweknya, terus kue itu dia hadiahin ke ceweknya yang lain.” Aku mengarang.

“Hah film apa? Baru? Mungkin aku bisa nonton bareng Ogi.”

“Eh aku lupa judulnya. Soalnya itu film Korea, jadi judulnya pakai huruf Korea,” jawabku asal. “Aku nggak inget……”

Ola hanya menggumam, “Ooohh”

Apa yang harus aku lakukan? Aku nggak mau melukai perasaan Ola kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi, aku juga nggak suka temanku dikhianati. Aku harus mutusin Ogi! Dan aku harap, Ola bisa cepat putus dari Ogi. Ogi nggak hanya pintar selingkuh, dia juga ternyata pintar berpura-pura jadi cowok baik. Padahal aku pikir, cokelat di dalam kue yang aku buat itu bisa membuat Ogi semakin sayang denganku. Ternyata itu hanya mitos.

“Eh kamu gimana? Udah punya yang baru?” tanya Ola. “Atau, milih jomblo biar bisa serius sekolah?”

Aku nggak tau harus jawab apa. Sesaat aku panik. Tapi, kemudian aku menggelengkan kepala. “I’m single and very happy,” aku meniru lagu Oppie.

Ola mengangguk-angguk. “Kalo itu yang terbaik, jalani aja……”

Aku merasa sedikit dendam dengan Ola. “Aku usahain cari film Korea yang aku ceritain tadi buat kamu!” aku berbohong. “Jangan lupa certain ke Ogi soal filmnya! Dia pasti suka!”

“Siiip!”

“Oh ya, bilangin juga sama Ogi, ada adik kelasnya yang jomblo, lagi cari cowok. Namanya Tia” aku titip pesan pada Ola. “Siapa tau aja ada temen dia yang jomblo.”

“Sip Tia!” Ola tersenyum. “Pasti! Aku nggak akan lupa.”

Sambil menghabiskan pisang goreng, pikiranku mulai merangkai kata-kata untuk SMS Ogi. Ogi, kalo kamu punya cewek baru, tolong hargai dia. Jangan selingkuh, jangan ngebohongin dia. Dan mulai sekarang, anggap nggak pernah terjadi apa-apa sama kita! Titik! Ya, aku akan mengirim SMS itu ke Ogi.

Tidak ada komentar: